Potensi
Kontribusi Kabupaten Keerom terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua hingga tahun 2024 masih tergolong relatif kecil. Struktur perekonomian Provinsi Papua didominasi oleh Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, dengan kontribusi masing-masing sebesar 46,56% dan 23,89% pada tahun 2024. Sementara itu, kontribusi Kabupaten Keerom hanya 4,23% dari total PDRB provinsi pada tahun yang sama. Dilihat dari aspek pertumbuhan ekonomi, posisi Kabupaten Keerom juga menunjukkan kinerja yang sedikit di bawah rata-rata provinsi. Pertumbuhan rata-rata PDRB Provinsi Papua tahun 2024 tercatat sebesar 3,52%, sedangkan pertumbuhan PDRB Kabupaten Keerom hanya mencapai 3,20%. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa meskipun Keerom memiliki potensi wilayah strategis sebagai daerah perbatasan, kontribusi ekonominya belum mampu mengimbangi daerah lain seperti Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi pemba-ngunan daerah yang lebih terarah, khususnya pada penguatan sektor-sektor unggulan lokal.
Kontribusi Kabupaten Keerom terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua hingga tahun 2024 masih tergolong relatif kecil. Struktur perekonomian Provinsi Papua didominasi oleh Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, dengan kontribusi masing-masing sebesar 46,56% dan 23,89% pada tahun 2024. Sementara itu, kontribusi Kabupaten Keerom hanya 4,23% dari total PDRB provinsi pada tahun yang sama. Dilihat dari aspek pertumbuhan ekonomi, posisi Kabupaten Keerom juga menunjukkan kinerja yang sedikit di bawah rata-rata provinsi. Pertumbuhan rata-rata PDRB Provinsi Papua tahun 2024 tercatat sebesar 3,52%, sedangkan pertumbuhan PDRB Kabupaten Keerom hanya mencapai 3,20%. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa meskipun Keerom memiliki potensi wilayah strategis sebagai daerah perbatasan, kontribusi ekonominya belum mampu mengimbangi daerah lain seperti Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi pemba-ngunan daerah yang lebih terarah, khususnya pada penguatan sektor-sektor unggulan lokal. Kondisi tutupan lahan tersebut menunjukkan bahwa Kabu-paten Keerom memiliki potensi besar pada sektor kehutanan, baik untuk pelestarian ekosistem maupun sebagai sumber daya eko-nomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan, tetapi pemanfaatan nya belum dioptimalkan. Hal ini terlihat dari penggunaan kawasan hutan untuk lahan pertanian yang hanya mencapai 2,87% dari total luas wilayah. Keadaan ini menunjukan sebagian besar wilayah hutan belum dimanfaatkan untuk aktivitas produktif masyarakat, sehingga nilai tambah ekonomi dari sektor pertanian dan perke-bunan relatif rendah.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan dan peluang. Di satu sisi, rendahnya pemanfaatan lahan pertanian mencermin kan keterbatasan dalam membuka akses produksi pangan dan komoditas unggulan daerah. Namun, di sisi lain, hal ini juga memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk merumuskan strategi pembangunan berbasis pemanfaatan lahan yang lebih optimal, terutama dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, konservasi hutan, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Selanjutnya, representasi spasialnya dan sebaran luas wilayah menurut kategori penggunaan lahan. Kondisi tutupan lahan tersebut menunjukkan bahwa Kabu-paten Keerom memiliki potensi besar pada sektor kehutanan, baik untuk pelestarian ekosistem maupun sebagai sumber daya eko-nomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan, tetapi pemanfaatan nya belum dioptimalkan. Hal ini terlihat dari penggunaan kawasan hutan untuk lahan pertanian yang hanya mencapai 2,87% dari total luas wilayah. Keadaan ini menunjukan sebagian besar wilayah hutan belum dimanfaatkan untuk aktivitas produktif masyarakat, sehingga nilai tambah ekonomi dari sektor pertanian dan perke-bunan relatif rendah.
Data tersebut memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai pola pemanfaatan lahan, sekaligus menjadi dasar perencanaan pembangunan wilayah, khususnya di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan, dengan penjelasan sebagai berikut:
- Pertanian
Sektor pertanian mempunyai kontribusi penting terhadap perekonomian karena menjadi salah satu penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di luar sektor administrasi pemerintahan. Hal ini sejalan dengan struktur mata pencaharian penduduk, di mana sebagian besar masyarakatnya berkegiatan bercocok tanam, perkebunan, dan peternakan. Komoditas yang banyak diusahakan meliputi jagung, padi, kakao, kopi, dan tanaman hortikultura. Komoditas tersebut memiliki potensi menjadi produk unggulan daerah apabila dikelola dengan dukungan teknologi, infrastruktur, dan akses pasar yang memadai.
Sektor pertanian juga berperan penting dalam penyediaan kebutuhan pangan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan pangan juga semakin meningkat, baik pangan pokok maupun pangan tambahan. Sehingga, sektor per-tanian menjadi penopang utama ketersediaan pangan lokal. Apabila ketersediaan pangan lokal diikuti dengan keterjangkauan nya, dan keberlanjutan pasokan pangan, ketahanan pangan akan tercapai. Selain itu, sektor pertanian juga berkontribusi pada aspek stabilitas sosial dan ekonomi. Ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau akan mendukung kesejahteraan masyarakat, mengurangi risiko inflasi pangan, serta mendorong terciptanya lapangan kerja baru di pedesaan. Dengan demikian, penguatan sektor pertanian bukan hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga merupakan investasi strategis untuk menjamin keberlanjutan pembangunan daerah dan kualitas hidup masyarakat. - Perkebunan
Komoditas perkebunan masih didominasi oleh kelapa sawit dan kakao, dengan kontribusi terbesar terhadap luas areal dan produksi perkebunan rakyat. Data Kabupaten Keerom dalam Angka [2024], menunjukkan bahwa komoditas ini menjadi pilar utama, sementara kelapa, pinang, dan kopi hadir sebagai peleng-kap. Sawit umumnya terkonsentrasi di Distrik Arso, Arso Barat, Arso Timur, Skanto, dan Mannem yang memiliki akses jalan dan pasar lebih baik. Kakao lebih menyebar ke distrik seperti Waris, Senggi, Web, Towe, Yaffi, dan Kaisenar, berdampingan dengan perkebunan kecil kelapa, pinang, dan kopi. Kondisi ini menegaskan bahwa struktur perkebunan masih berbasis ganda, yaitu sawit-kakao sebagai inti dan komoditas lain sebagai diversifikasi.
Implikasi ekonominya jelas, yaitu pengembangan sawit dan kakao harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, kemitraan hulu-hilir, serta akses pasar di klaster Arso–Skanto. Di sisi lain, diversifikasi melalui penguatan kelapa, pinang, dan kopi di distrik pendalaman penting untuk menambah pendapatan petani dan menjaga ketahanan ekonomi lokal. Data BPS [2024], dapat dijadikan baseline untuk mengevaluasi kebijakan per distrik, baik pada aspek bibit, rehabilitasi kebun, hingga pascapanen dan distribusi. Dengan pendekatan berbasis data, Pemerintah dapat merumuskan strategi pembangunan perkebunan yang lebih terukur, sehingga kontribusi sektor ini terhadap PDRB semakin meningkat. - Kehutanan
Sumber daya hutan merupakan potensi alam yang paling besar dimiliki Kabupaten Keerom, dan pada umumnya potensi ini belum banyak dimanfaatkan. Sebagian besar Kabupaten Keerom ditutupi oleh hutan, yaitu mencapai 93% dari luas kabupaten, baik hutan primer, hutan sekunder, hutan rawa primer, maupun hutan rawa sekunder. Sub-sektor kehutanan mampu menyumbang PDRB sebesar 8,53 % dan menempati urutan ketiga dalam sektor pertanian. Perencanaan tata ruang harus mengalokasikan wilayah lindung dan budidaya hutan secara proporsional untuk menjamin tercapainya pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkelanjutan. Terdapat 5 macam kawasan hutan yang meliputi Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Konversi (HPK), Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan kawasan suaka alam. Luas keseluruhan kawasan hutan tersebut mencapai 71,51% dari areal berhutan. Berbagai komoditas yang dapat dikembangkan pada sub-sektor kehutanan antara lain meliputi yaitu kayu, rotan, dan kulit kayu yang dapat diolah menjadi plywood, block-board, veneer, lumber-core, kayu ger-gajian dan poliyester. Selain itu dapat pula dikembangkan produk non kayu seperti madu, plasma nutfah, dan jasa lingkungan hutan lainnya. - Peternakan
Peternakan memiliki posisi strategis dalam mendukung per ekonomian daerah, karena selain memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja di Kabupaten Keerom. Populasi ternak cukup beragam, dengan komoditas utama berupa sapi potong, kambing, babi dan unggas. Sapi potong memiliki populasi terbanyak, meskipun dalam beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi akibat keterbatasan pakan dan sistem pemeliharaan yang masih tradisional. Kambing berkembang pesat di beberapa distrik sebagai sumber protein hewani alternatif dengan siklus produksi yang relatif singkat. Sementara itu, babi banyak dipelihara oleh masyarakat di wilayah perkampungan. Pengelolaan ternak dengan sistem manajemen modern, dapat meningkatkan populasi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dalam mendukung peningkatan kontribusi PDRB sektor peternakan.
Potensi peternakan unggas juga sangat signifikan di Keerom. Jenis unggas yang dominan adalah ayam kampung yang jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor dan tersebar di seluruh distrik. Ayam petelur dan ayam pedaging juga mulai dikembangkan, meskipun masih dalam skala terbatas karena kendala pakan, bibit, dan jaringan pemasaran. Sementara itu, ternak bebek menjadi salah satu komo-ditas tambahan yang berpotensi dikembangkan, baik untuk kon-sumsi daging maupun telur asin. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, pemenuhan kebutuhan protein hewani terus meningkat. Pengembangan subsektor unggas dapat memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang usaha baru.
Dengan dukungan pemerintah daerah dalam memfasilitasi infrastruktur, akses permodalan, dan pendampingan teknis, sub sektor peternakan di Keerom menjadi salah satu pilar ekonomi yang mampu mendukung pembangunan berkelanjutan. - Perikanan
Upaya peningkatan Sub-Sektor Perikanan, lebih fokus pada budidaya air tawar seperti ikan lele dan sejenisnya, dibandingkan perikanan tangkap karena faktor geografis. Konsumsi ikan per kapita masih rendah, yang mengindikasikan bahwa potensi pasar domestik dapat ditingkatkan melalui edukasi dan distribusi produk perikanan. Padahal, program budidaya ikan darat, sangat potensial dikembangkan, meskipun saat ini masih dalam skala relatif kecil dan terbatas dibandingkan kabupaten pesisir lainnya yang memiliki infrastruktur laut memadai. Menurut BPS Provinsi Papua [2023], volume produksi perikanan budidaya di Keerom adalah 1.867 ton dengan nilai produksi sekitar Rp 93.350 juta.
Data ini menunjukkan bahwa budidaya ikan dapat menjadi sumber pendapatan nyata bila didukung oleh investasi pengelolaan, penyediaan bibit, pakan, dan akses pasar. Pencacahan lengkap Sensus Pertanian [2023 Tahap-II], juga mencatat bahwa terdapat sejumlah usaha perikanan perorangan (UTP Perikanan) di Kabupaten Keerom, dapat dijadikan basis pengembangan lebih lanjut, walaupun belum terinci jenis ikan budidaya yang paling dominan per distrik, misalnya lele, nila, mujair, atau lainnya.
Untuk optimalisasi potensi, diperlukan perbaikan infra struktur seperti kolam, sistem pascapanen, transportasi, dan jaringan pemasaran serta dukungan kebijakan daerah: misalnya subsidi bibit, pendampingan teknis budidaya, sanitasi perairan, dan regulasi yang mendukung keberlanjutan perikanan. Jika usaha perikanan budidaya dan pemanfaatan sumber daya air tawar di beberapa distrik yang dekat sungai dan danau dapat dikembangkan dengan baik, maka sektor ini berpotensi menjadi penyumbang signifikan terhadap ekonomi di daerah ini. - Pariwisata
Kabupaten Keerom mempunyai modal alam dan budaya yang kuat: hutan hujan tropis, air terjun dan sungai besar, bentang pegunungan dan dataran, serta warisan budaya masyarakat adat perbatasan. Potensi pariwisata utama adalah: ekowisata (air terjun, trekking, birdwatching), wisata budaya-adat, wisata agro-edukasi, dan wisata perbatasan-sejarah. Arah Pengembangan Pariwisata Kabupaten Keerom menurut klaster Zona Prioritas Pengembangan adalah:
• Zona I (Arso–Skanto): Pusat wisata agro dan budaya.
• Zona II (Waris–Senggi): Wisata alam dan sejarah perbatasan.
• Zona III (Yaffi–Towe–Web): Ekowisata dan penelitian alam tropis.
Kondisinya pengembangannya saat ini, masih berskala awal (community-based, terbatas fasilitas), akses bervariasi antar distrik, dan promosi masih minim. Sementara itu, strategi pengembangan yang ditempuh meliputi integrasi promosi wisata dalam portal “Keerom Explore” berbasis digital, Penguatan kelembagaan Pokdarwis dan UMKM wisata, Pembangunan akses dan fasilitas dasar melalui program Dana Otsus dan KPBU, dan Pengembangan wisata lintas batas bekerja sama dengan PNG. Data kunjungan terakhir (estimasi Dinas Pariwisata/penilaian cepat 2024) adalah sekitar 5.000 kunjungan per tahun, baik lokal maupun domestik, sedangkan kunjungan mancanegara hampir nihil kecuali kegiatan khusus lintas instansi.