Kabupaten Keerom adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 dan pada tahun 2025 berusia 23 tahun. Keerom termasuk wilayah adat Mamta. Luasnya 9.478,18 km² dan terbagi menjadi 11 distrik dengan 91 kampung. Distrik terluas adalah Senggi (2.675,52 km² atau 28,23%), sedangkan yang terkecil adalah Arso Barat (160,98 km² atau 1,70%). Ibu kota kabupaten saat ini berada di Distrik Arso dan direncanakan pindah ke Distrik Waris sesuai amanat undang-undang pembentukannya.
Keerom berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini (PNG). Lima distrik bersinggungan langsung dengan garis batas negara, yaitu Waris, Yaffi, Web, Arso Timur, dan Towe, dan di masing-masing distrik tersebut telah dibangun Pos Lintas Batas. Posisi ini memberi Keerom dua peran sekaligus. Keerom menjadi penjaga kedaulatan negara dan juga berpeluang dalam perdagangan lintas batas serta ekonomi regional. Di sisi lain, wilayah perbatasan menghadapi risiko keamanan, penyelundupan, penyakit menular lintas batas, tekanan pada layanan publik, dan kerusakan lingkungan. Jarak antarwilayah juga menjadi tantangan. Distrik terjauh, Towe, berjarak sekitar 185 km dari pusat pemerintahan, sementara Kaisenar hanya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua.
Wilayah Keerom didominasi hutan. Kawasan hutan mencakup sekitar 92,8% wilayah, dan penggunaan lahan untuk pertanian baru sekitar 2,87%. Kondisi ini menjadi modal besar untuk kehutanan dan pembangunan berkelanjutan, tetapi juga menunjukkan bahwa nilai tambah ekonomi dari lahan belum dimanfaatkan secara optimal. Perkebunan rakyat bertumpu pada kelapa sawit dan kakao. Sawit terpusat di Arso, Arso Barat, Arso Timur, Skanto, dan Mannem, sedangkan kakao menyebar di Waris, Senggi, Web, Towe, Yaffi, dan Kaisenar. Kelapa, pinang, dan kopi menjadi komoditas pelengkap.
Pada tahun 2024 penduduk Keerom berjumlah 74.332 jiwa. Angka ini naik dari 61.623 jiwa pada tahun 2020, dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,77% per tahun. Penduduk terkonsentrasi di Distrik Arso (19.371 jiwa) dan Skanto (18.708 jiwa), sebagian karena keberadaan pusat pemerintahan dan permukiman transmigrasi. Kaisenar hanya dihuni 420 jiwa. Kepadatan rata-rata hanya 7,84 jiwa/km², dengan rentang dari 85,70 jiwa/km² di Arso Barat sampai di bawah 1,2 jiwa/km² di Towe, Senggi, dan Kaisenar. Struktur penduduknya muda. Masyarakatnya majemuk dan terdiri atas masyarakat asli Papua, antara lain suku Walsa, Waris, dan Yafi, serta pendatang dari berbagai daerah di Indonesia.